Jumat, 30 November 2012

ADA RAHASIA DI BALIK KEKECEWAAN


Pagi ini aku terbangun dari lelap tidurku yang nyenyak dan hendak melakukan rutinitas kerja seperti biasanya. Tak seperti biasanya setelah bangun tidur pagi ini aku merasakan tubuhku seperti tidak bertulang, lemas, pucat,dan merasakan sakit yang teramat sakit tepatnya pada daerah perut hingga lemas tak berdaya jangankan untuk berjalan untuk berdiripun aku harus memaksakan tubuhku dan menahan sakit yang teramat. Dua hari yang lalu aku merasakan hal yang sama pada tubuhku tapi setelah minum obat dari dokter tubuhku berangsur membaik suhu tubuhku juga menurun bahkan rasa sakit diperut sudah hilang, kenapa sekarang muncul kembali dengan keadaan yang lebih parah.”
Kupaksakan kakiku untuk melangkah ke tempat kerja yang tempatnya tak jauh dari asramah ku ke tempat kerja. Aku bekerja sebagai asisten perawat disalah satu klinik umum daerah mangga besar, dikarenakan tempat kerjaku jauh dari rumah ku yang didepok maka tempatku bekerja mewajibkan untuk semua karyawannya untuk tinggal diasramah yang telah difasilitasinya. Meskipun ditempat ini terfasilitasi tetap saja aku lebih nyaman tinggal dirumah sendiri apalagi saat-saat sedang sakit seperti ini rasanya aku rindu sekali ingin bertemu bunda. Beberapa menit kemudian akhirnya sampai juga aku ditempat kerja, ku konsulkan dengan dokter Slanfa tentang keluhanku saat ini “kamu saya rujuk ke RS yah, kamu harus segera dioprasi jangan sampai terlalu lama dibiarkan sepertinya kamu terkena usus buntu” teman kerjaku yang mengetahui hal itu langsung memberikan dukungan dan berusaha menyemangatiku agar cepat dioprasi mungkin mereka mengetahui raut diwajahku sangat cemas dan takut. Setelah dirundingkan dengan atasanku sekaligus kepala Dokter tempat aku bekerja akhirnya aku memutuskan  berpamitan untuk beberapa mingggu, ya Allah apa yang harus aku kabarkan ke orang tua dirumah tentang hal ini ku kabarkan kerumah tentang keadaanku saat ini dan kepulanganku secara mendadak yaa..... yang biasanya aku hanya bisa pulang seminggu sekali kini aku pulang belum ada 1 minggu setelah 3 Hari yang lalu aku pulang kerumah namun kepulangankupun kerumah bukan untuk berlibur tetapi karena sakit dan harus segera dioprasi.
Sampailah dirumahku,kurebahkan tubuhku dikasur yang empuk dikamar kecintaanku dimana kamar ini tempat beristirahat yang nyaman dan kamar ini menjadi saksi bisu semua ceritaku “kamu kenapa nak, nanti kita kerumah sakit ya setelah ayah pulang kantor” ku lihat wajah Bunda ya merasa sedih terlihat dari matanya yang mulai berkaca-kaca “aku tidak apa-apa bunda” aku jawab singkat aku tak mau membuat bunda merasa terbebani nantinya biar tau saja gimana hasil nanti setelah diperiksa kembali dirumah sakit toh bisa saja setelah diperiksa ternyata bukan usus buntu bisa saja hanya panas biasa karena kurang tidur dan telat makan karena akhir-akhir ini aku khan juga kurang tidur dan sering telat makan, batinku.
Malam itu hujan deras mengguyur kota Depok setelah shlat isya kami sekeluarga langsung membawaku kerumah sakit umum terdekat, sudah tak asing lagi tempat UGD bagiku karena memang sudah terbiasa waktu aku peraktik kerja diRumah sakit namun saat ini ruang UGD menjadi terasa horor bagiku mungkin karena aku yang sekarang menempati tempat tidur ruang UGD bukan sebagai perawat tetapi sebagai pasien. Sudah tiga kali dokter yang datang memeriksaku serta perawat-perawat itu yang memberi obat penurun panas untuk sementara, aku menjadi bingung mengapa lama sekali pemeriksaanku bahkan sampai beberapa dokter datang memeriksaku dan terlihat jelas gelagat dokter-dokter itu serta perawat menunjukan ada sesuatu dalam diriku saat setelah dilakukan USG dan pengambilan darah beberapa jam kemudian orang tuaku datang kulihat kedua matanya seperti orang habis nangis, ya mungkin mereka sangat bersedih orang tua mana yang tega melihat anaknya sakit dan berbaring diruang UGD pastilah ia merasakan hal yang sama bahkan kudapati ada gelagat yang aneh tapi ya sudahlah aku tak mau mengmbil pusing takut nanti malah menambah beban mereka “kita minta rujuk ke Rumah Sakit negri yg dijakarta aja ya nak” orangtuaku mengatakan hal itu kepadaku dengan alasan rumah sakit ini tidak bisa pakai Askes (asuransi kesehatan) karena ayahku bekerja sebagai PNS ku maklumi kalau ditempat Rs swasta tentu lebih mahal biayanya.orang tua ku langsung menghubungi sanak keluarga, dengan ditemani orang tuaku serta om dan tanteku lalu malam itu juga aku langsung dibawa pindah ke Rs Negri daerah jakarta, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Bunda dan ayah ku memegang erat tubuhku, menayakan agar bertahan dan bersabar selebihnya berdoa dan berserah diri pada Allah SWT agar baik-baik saja seperti tak ingin lepas menjagaku dan membelai rambutku mereka berusaha menyembunyikan kesedihan yang terpancar diwajah kedua orang tua ku yang tak bisa ditutupi olehku kalau mereka sangat khawatir dengan keadaanku,apa yang terjadi pada diriku ya Rabb.
Jam menunjukan tepat pukul 12:00 malam sampai UGD , untuk mengurangi rasa sakit diperutku dokter menyarankan untuk diinfus terlebih dahulu lalu melakukan pemeriksaan ulang yang awalnya sama saja pemeriksaan pertama seperti diRumah sakit sebelumnya. Kutahan sakitnya tusukan jarum suntik itu menusuk fenaku ku pejamkan mataku rapat-rapat melihat sekelilingku dengan sakit yang bermacam-macam dengan alat bantuan tambahan ada yang memakai selang NGT yang dimasukan melalui hidung dan berbagai macam lagi, sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri gak jauh dari sebrang tempat tidur pasien UGD itu meninggal dunia, Subhanalllahhhh.... Inalillahi wa’inailaihi Roji’un menambah ketakutanku.namun orang-orang kesayanganku selalu memberikan semangat kepadaku itu yang membuat batinkupun sedikit lebih tenang.aku harus menunggu beberapa jam untuk dilakukannya oprasi karena tempat kamar ruang setelah oprasi masih penuh bahkan aku sampai menunggu 1harian untuk dilakukannya oprasi. Dokter bilang aku hanya terkena Usus Buntu namun sudah parah,lohhh bukannnya memang dari awal aku periksa diklinik tempatku bekerja ini memang usus buntu, fikirku.sambil terus berusaha memejamkan mataku namun tak bisa.
Ruang oprasi terasa begitu dingin,mencekam tak hentinya dalam hati berdoa agar oprasi berjalan dengan lancar.dokter yang menanganiku oprasi memberikan obat bius  setengah badan hingga aku dapat mengetahui situasi ruangan saat berjalannya oprasi malah sambil berbincang-bincang dengan perawatnya dan dokter sambil mendengarkan musik yang diputarkan pada saat oprasi, mungkin ini salah satu trik untuk supaya pasien tidak tegang dan lebih rileks. Namun pada saat pertengahan oprasi yang mengejutkan ku Dokter itu bilang “lokhh ini kenapa, haduhhh...bersihkan” kata-kata yang aku ingat sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri .
Tersadarkan aku sudah berada diruang pemulihan, ku buka mataku yang masih terasa berat masih berpengaruh obat bius. Kulihat samar-samar keluargaku datang menjengukku melihat keadaanku sekarang, Alhamulillah oprasi berjalan dengan lancar.seminngu dirawat di Rs. Teman-teman serta kelurga, tetanggaku datang menjenguk sungguh terlihat saat keadaan seperti ini orang-orang yang tulus menyayangiku, orang-orang yang peduli kepadaku bahkan sahabat-sahabatku MINIZUE datang menjengukku untuk beberapa kali karena kebetulan tempat aku dirawat dekat dengan kampus mereka setiap pulang kuliah selalu menjengukku, inilah yang membuatku semangat untuk segera sembuh.
hari ini Dokter memeriksaku dan menyarankan aku boleh untuk pulang istirahan dirumah dan harus balik lagi untuk kontrol 3 minggu kemudian, Alhamdulillah  akhirnya aku menghirup udara segar diluar juga terimakasih ya Allah engkau berikan kesembuhan. Sesampainya dirumah orang tua ku menceritakan semuanya kepadaku hal apa yang terjadi kepada ku selama saat perjalanan ku ke rumah sakit, ternyata aku baru mengerti perkara rujukanku pindah ke Rumah sakin Negri yang jelas-jelas lebih jauh itu dikarenakan di tempat pertama aku periksa Dokter itu bilanga aku bukan usus buntu, tapi aku terkena kangker Usus stadium lanjut dan harus segera dioprasi lalu menggunakan alat bantu kantong pencernaan yang dimasukan lewat lambung dan yang artinya alat itu bertahan sampai 6 bulan selebihnya kalau masa kantong pencernaan itu telah selsesai dan dicabut di tubuhku tandanya aku telah tiada.Subhanalllahh....untung saja orang tua ku masih berfikir panjang untuk pindah rumah sakit dan gak percaya pada satu dokter sehingga aku tak terkena mal praktek Dokter.aku banyak-banyak bersyukur,mungkin kalau saat itu orang tuaku bertidak langsung menyetujui oprasi ditempat Rs itu mungkin aku sudah tiada didunia ini sekarang, buktinya aku sudah lebih dari 6 bulan sehat wal afiat sampai detik ini.
Semenjak kejadian itu sekarang aku mulai menjalani pola hidup sehat, betapa mahalnya sehat betapa berharganya karunia Allah yang diberikan dan ada hikmahnya dalam setiap kejadian agar kita selalu bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar